Makna Sebuah Hari Budaya

 

Jadi pelajaran yang bisa dipetik dari peringatan hari budaya adalah mengingatkan kita bahwa budaya itu bukan sekedar seremonial, melainkan kebiasaan baik yang mengakar kuat dalam pribadi seseorang. Misalnya budaya Indonesia adalah bersalaman tidak peduli dengan lawan jenis atau sesama jenis. Kelemahannya adalah bertentangan bagi sebagian agama yang melarang wanita dan laki2 bersentuhan bagi yang bukan muhrim. Namun karena budaya yang terlanjur mengakar kuat jadi sedikit ada 'rasa ketimpangan' ketika seseorang lebih memilih agamanya daripada menerapkan budaya yang salah kaprah.

Beda lagi dengan Negara Malaysia, di sana budayanya adalah bertegur sapa secara verbal. Bagi umat Islam adalah 'Assalamualaikum' entah kenal atau tidak kenal, setiap berpapasan selalu bertegur sapa seperti ini contohnya.

Teringat Bulik saya yang pernah menjadi TKW di Korea, beliau telah mengalami _cross culture_ persilangan budaya antar negara yang dibawa masuk kembali ke negara asalnya saat kembali dari merantau. Dan itu memang terkesan aneh namun beliau meyakini prinsipnya sendiri dan tetap menerapkan. Kebiasaan bersalaman sejatinya hanya di Indonesia, jadi di Korea tidak ada ritual berjabat tangan
Maka Bulik saya memilih untuk tidak berjabat tangan dengan siapapun entah saat bertemu saudara, atau kenalan, atau tamu baik sejenis maupu  lawan jenis dipukul rata. Inilah yang menjadikan sebagian orang beranggapan 'aneh' ketika melihatnya. Setelah ditelusur ternyata beliau menerapkan kehidupan di negara tempatnya bekerja dulu.

Berbeda lagi ketika makna hakiki sebuah budaya ditelusur dalam bingkai sebuah rumah tangga. Ketika kalimat akad maupun sumpah janji untuk ikrar hidup berumah tangga terucap maka lebur budaya yang melekat antara dua insan. Berpadu menjadi satu antara budaya yang dinilai positif maupun negatif, menjelma menjadi sebuah budaya baru yang indah dan mengagumkan.

Hal ini pula yang menjadikan saya sedikit tertarik membahas nilai budaya dari sisi keluarga. Betapa dua insan rela melebur budaya yang selama berpuluh tahun mereka bangun hasil pondasi orang tuanya untuk hidup bersama orang yang baru masuk dalam kehidupannya.

Ini bukan main-main, melainkan benar-benar butuh usaha dan pengorbanan yang besar. Sang istri meminta Sang suami untuk masuk ke dalam kehidupannya baik lingkungan tempat kerjanya maupun lingkungan tempat "bermainnya" atau lingkungam tempatnya berorganisasi. Sang suami mengalah dan memenuhi keinginan sang istri hingga suatu ketika suami tidak siap menerima budaya hasil didikan sang istri yang dianggap bertentangan dengan kepribadiannya, tidak ada penerimaan akhirnya goyah pecah pertengkaran karena satu dua hal yang dianggap sepele namun besar maknanya. Karena ini menyangkut budaya, hasil tempaan selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.
Di lain sisi sang suami meminta sang istri untuk menjadi seperti yang diyakininya karena dianggap itulah yang terbaik, misal selalu berdoa dalam hati apapun dan dimanapun kondisinya baik lisan maupun dalam hati. Atau mungkin segala urusan yang berhubungan dengan kegiatan apapun dicatat agar ada rekam jejaknya, sehingga bisa ditelusur jika suatu saat ada yang _missed_. Jika tidak terbiasa seperti itu sang istri akan berontak dan menyalahkan Sang Suami telah menekannya dan menuntut ini itu. Padahal jika ditelisik kembali di sini konsepnya bukan saling ingin menuntut tapi hanya ingin berusaha menerapkan yang terbaik bagi kehidupan mereka dengan cara menerapkan pemikiran yang mereka yakini selama ini.

Keluasan jiwa, _neriman_ menerima dengan lapang hati tentang segala perbedaan inilah kuncinya. Hingga tidak ada lagi sangkaan serta tekanan yang dianggap mengusik jiwa serta kehidupannya. Merelakan sisi-sisi yang tidak bisa diraih oleh satu tangan, namun berusaha bersama menggapai sisi lain yang indah dengan bantuan tangan kekasihnya. Sehingga bersama mereka mengarungi bahtera rumah tangga yang indah dalam pelukan budaya yang mengakar kuat dalam dada.
Inilah makna hakiki sebuah budaya dalam kehidupan berumah tangga.

Peringatan hari budaya: Kamis, pekan pertama awal bulan

Jombang, Oktober 2023 by Manisfu Sepshofaro

Komentar